ryan koko's. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

SCABIES



Scabies
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular




Oleh :
       1.      RYAN KOKO


JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012

DAFTAR ISI
A.    Definisi Scabies
B.     Epidemiologi Scabies
C.     Penularan atau Transmisi Scabies
D.    Faktor Resiko Scabies
E.     Klasifikasi Scabies
F.      Etiologi Scabies
G.    Gejala dan Tanda Scabies
H.    Pathogenesis Scabies
I.       Diagnosis Scabies
J.       Diagnosis Banding Scabies
K.    Penatalaksanaan Scabies
L.     Pengobatan Scabies
M.   Pencegahan Scabies
N.    Prognosis Scabies

A.    Definisi Scabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. (Handoko, R, 2001)
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) Sarcoptes scabiei yang termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop.
Penyakit ini merupakan infeksi pada kulit yang disebabkan oleh kutu, penetrasi pada kulit terlihat jelas berbentuk papula, vesikel atau berupa saluran kecil berjejer, berisi kutu dan telurnya. Jika dapat terjadi komplikasi dengan kuman β hemolytic streptococcus bisa terjadi glomerulonephritis akut.
Penyakit scabies juga sering disebut dengan kutu badan. Penyakit ini tergolong penyakit yang mudah menular dari manusia ke manusia, hewan ke manusia, dan manusia ke hewan.
Scabies merupakan penyakit yang menyebabkan rasa gatal pada kulit seperti sela-sela jari, siku, dan perut bagian bawah. Scabies juga identik dengan penyakit anak pondok atau asrama. Bukan bermaksud mendiskriminasikan pondok atau asrama tetapi, melihat kondisi pondok atau asrama yang kebanyakan kondisi kebersihannya kurang terjaga, sanitasi yang buruk, kurang gizi, dan kondisi ruangan yang terlalu lembab karena kurang mendapat sinar matahari. Penyakit scabies ini menular dengan cepat pada suatu komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam tindakan pengobatannya harus dilakukan dengan cepat dan secara menyeluruh individu dan lingkungan yang terserang scabies. Dilakukan tindakan seperti itu, karena apabila pengobatan hanya dilakukan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit scabies.
B.     Epidemiologi Scabies
Scabies ditemukan hampir di seluruh Negara dengan prevalensi yang bervariasi. Di beberapa Negara yang sedang berkembang, prevalensi scabies sekitar 6% - 27% populasi umum dan cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja.
Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi scabies. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini antara lain sosial ekonomi yang rendah, hygiene yang buruk, hubungan seksual yang bersifat promiskuitas atau sering bergonta-ganti pasangan, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografi serta ekologi. Selain itu, mudahnya penyakit ini menular dari manusia ke manusia, hewan ke manusia, dan menusia ke hewan melalui berbagai cara penularan.
Kejadian wabah disebabkan oleh buruknya sanitasi lingkungan karena peperangan, pengungsian dan krisis ekonomi. Penyebaran scabies di Amerika Serikat dan Eropa yang terjadi ternyata terjadi pada situasi normal yaitu tanpa peperangan, tanpa krisis, menyerang masyarakat di semua tingkat sosial tanpa melihat usia, jenis kelamin, ras atau status kesehatan seseorang. Scabies endemis di sebagian besar negara berkembang.
C.    Penularan atau Transimisi Scabies
Secara umum, cara penularan scabies dibagi menjadi 2 yang didalamnya dapat dibagi-bagi lagi, yaitu:
a.         Penularan kontak langsung yaitu: penularan yang terjadi akibat kontak langsung antara penderita scabies dengan orang sehat seperti melalui: hubungan seksual antara penderita dengan orang sehat, kontak dengan hewan pembawa tungau seperti anjing, babi, kambing, dan biri-biri, dan faktor fasilitas umum yang dipakai secara bersama-sama dengan lingkungan padat penduduk, tidur bersama, dan berjabat tangan.
b.         Penularan tanpa kontak langsung yaitu: penularan yang terjadi melalui kontak tidak langsung antara penderita dengan orang sehat seperti: penggunaan handuk secara bergantian, penggunaan pakaian dan tempat tidur, sprei, dan bantal secara bersamaan.
Penularan scabies biasanya melalui Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes scabiei var. animalis yang kadang-kadang menulari manusia, terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaan misalnya anjing.
Akan tetap menular kecuali kutu dan telur sudah dihancurkan dengan pengobatan, biasanya setelah dilakukan 1 atau 2 kali pengobatan dalam seminggu.
D.    Faktor Resiko Scabies
Faktor resiko scabies adalah:
a.    Sistem imun tubuh
Semakin rendah imunitas seseorang maka, akan semakin besar kemungkinan orang tersebut untuk terjangkit atau tertular penyakit scabies. Namun, diperkirakan terjadi kekebalan setelah infeksi.  Orang yang pernah terinfeksi akan lebih tahan terhadap infeksi ulang walaupun tetap masih bisa terkena infeksi dibandingkan mereka (orang-orang) yang sebelumnya belum pernah terinfeksi scabies.
b.      Lingkungan dengan hygiene sanitasi yang kurang
Lingkungan yang dimungkinkan sangat mudah terjangkiti scabies adalah lingkungan yng lembab, terlalu padat, dan dengan sanitasi buruk.
c.       Semua kelompok umur
Semua kelompok umur, baik itu anak-anak, reaja, dewasa, dan tua mempunyai resiko untuk terjangkiti penyakit scabies.
d.      Kemiskinan
e.       Seksual promiskuitas (berganti-ganti pasangan)
f.       Diagnosis yang salah
g.      Demografi
h.      Ekologi
i.        Derajat sensitasi individual
E.     Klasifikasi Scabies
Penyakit scabies atipik memiliki beberapa jenis, yaitu:
a.    Scabies pada orang bersih (scabies of cultivated)
Scabies pada orang bersih ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan.
b.    Scabies inconigto
Scabies inconigto biasanya muncul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala dan tanda klinis membaik tetapi, tungau tetap ada dan tetap bisa terjadi penularan. Scabies inconigto sering sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, lesi yang luas dan mirip penyakit lain.
c.    Scabies nodular
Pada scabies nodular terdapat lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat di bagian tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal, dan aksila. Nodus ini timbul akibat reaksi hipersensitivitas terhadap tungau scabies. Pada nodus yang berumur lebih dari 1 bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun sudah diberi pengobatan anti scabies dan kortikosteroid.
d.   Scabies yang ditularkan melalui hewan
Seperti di Amerika, sumber utama kejadian scabies biasanya ditularkan oleh hewan yaitu anjing. Kelainan ini berbeda dengan scabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terjadi di daerah dimana orang-orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya, yaitu perut, dada, paha, dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4-8 minggu) dan dapat sembuh karena Sarcoptes scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada tubuh manusia.
e.    Scabies Norwegia
Scabies Norwegia atau biasa disebut dengan scabies krustosa ditandai dengan lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokog, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. Rasa gatal pada scabies Norwegia tidak menonjol tapi scabies bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Bentuk ini terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau sehingga dapat berkembang biak dengan mudah.
f.     Scabies pada bayi dan anak
Lesi scabies pada anak dapat terjadi di seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, dapat terjadi lesi di muka.
g.    Scabies terbaring di tempat tidur (bed ridden)
Pada penderita penyakit kronis atau orang tua yang terpaksa tinggal di tempat tidur dapat menderita scabies yang lesinya terbatas.
F.     Etiologi Scabies
Scabies atau kudis disebabkan oleh seekor tungau (kutu/mite) yang bernama Sarcoptes scabiei, filum Arthopoda, kelas Aracnida, ordo Ackarina, Superfamili Sarcoptes. Jenis Sarcoptes yang menyerang pada hewan dan manusia adalah:
a.         Pada manusia       : S. scabiei var homonis
b.         Pada hewan          : S. scabiei var animalis
c.         Pada babi             : S. scabiei var suis
d.        Pada kambing      : S. scabies var caprae
e.         Pada biri-biri        : S. scabiei var ovis
Secara morfologik, tungau berukuran kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar 330-450 mikron x 250-350 mikron sedangkan yang jantan lebih kecil yakni 200-210 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasanya memiliki 4 pasang kaki yaitu 2 pasang kaki di depan sebagai alat melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan kaki keempat berakhir dengan alat perekat. Tungau ini memiliki siklus hidup sebagai berikut:
Tungau berkopulasi (kawin) diatas kulit, setelah terjadi kopulasi (kawin) yang jantan akan mati, kadang-kadang masih hidup dalam terowongan yang digali oleh tungau betina. Tungau betina yang telah dibuahi akan menggali stratum korneum dengan kecepatan 2-3 mm sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat bertahan hidup selama 1 bulan. Biasanya dalam watu 3-5 hari, telur akan menetas dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari, larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk yaitu jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, dan tungau jantan akan mati setelah kopulasi.
Sarcoptes scabiei dapat hidup di luar pada suhu kamar selama lebih kurang 7-14 hari. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapat diserang oleh tungau.
G.    Gejala dan Tanda Scabies
Gejala penyakit scabies pada manusia adalah:    
a.        Terdapat liang di permukaan kulit
b.        Gatal
c.         Kemerahan pada kulit
d.        Biasa terjadi infeksi sekunder
e.         Pada bayi, terdapat bisul pada telapak tangan dan kaki
Terdapat 4 tanda cardinal penyakit scabies pada manusia adalah:
a.         Pruritus nocturna, yaitu gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tngau akan lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas
b.        Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, yaitu misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi
c.         Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel. Jika terjadi infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimarf (pustule, ekskoriasi, dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan statum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan kaki.
d.        Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
Tanda-tanda umum scabies:
a.         Adanya papula (bintil)
b.        Adanya pustule (bintil bernanah)
c.         Adanya ekskoriasi (bekas garukan), dan
d.        Bekas-bekas lesi yang berwarna hitam
H.    Patogenesis Scabies
Patogenesis atau perjalanan terjadinya penyakit scabies yaitu kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.
I.       Diagnosis Scabies
Diagnosis scabies dapat ditegakkan melalui:
a.         Ditemukannya 2 dari 4 tanda cardinal
b.         Terdapat terowongan yang sedikit meninggi, berbentuk garis lurus atau berkelok-kelok, panjangnya beberapa millimeter sampai 1 cm, dan pada ujungnya terdapat vesikula, papula atau pustule.
c.         Tempat predileksi yang khas adalah sela-sela jari, pergelangan tangan bagian volar, siku, lipat ketiak bagian depan, areola mammae, sekitar umbilicus, perut bagian bawah, dan genitalia eksterna pria. Pada orang dewasa jarang terdapat di bagian muka dan kepala, kecuali pada penderita imunosupresif, sedangkan pada bayi lesi dapat terjadi di seluruh permukaan kulit
d.        Penyembuhan terjadi dengan cepat setelah pemberian obat anti scabies topical yang efektif
e.         Adanya gatal hebat pada malam hari. Bila lebih dari 1 anggota keluarga menderita gatal, perlu diwaspadai terjadinya scabies. Gatal meningkat pada malam hari disebabkan karena temperatur badan yang meningkat sehingga aktivitas kutu atau tungau juga meningkat.
f.          Menemukan tungau. Metode-metode penemuan tungau yang lain:
·               Kerokan kulit
Papul atau terowongan yang baru dibentuk dan utuh ditetesi minyak mineral/KOH, kemudian dikerok dengan scalpel steril untuk mengangkat atap papul atau terowongan. Hasil kerokan diletakkan di gelas obyek dan ditutup dengan lensa mantap, lalu diperiksa dibawah mikroskop.
·               Mengambil tungau dengan jarum
Jarum ditusukkan pada terowongan di bagian yang gelap dan digerakkan tangensial. Tungau akan memegang ujung jarum dan dapat diangkat keluar.
·               Epidermal shave biopsy
Papul atau terowongan yang dicurigai diangkat dengan ibu jari dan telunjuk lalu diiris dengan scalpel no. 15 sejajar dengan permukaan kulit. Biopsy dilakukan sangat superfisial sehingga perdarahan tidak terjadi dan tidak diperlukan anestesi.
·               Burrow ink test
Papul scabies dilapisi tinta cina dengan menggunakan pena lalu dibiarkan selama 2 menit kemudian dihapus dengan alkohol. Tes dinyatakan positif bila tinta masuk kedalam terowongan dan membentuk gambaran khas berupa garis zig-zag.
·               Swab kulit
Kulit dibersihkan dengan eter lalu dilekatkan selotip dan diangkat dengan cepat. Selotip dilekatkan pada gelas obyek kemudian diperiksa dengan mikroskop.

·               Uji tetrasiklin
Tetrasiklin dioleskan pada daerah yang dicurigai ada terowongan, kemudian dibersihkan dan diperiksa dengan lampu Wood. Tetrasiklin dalam terowongan akan menunjukkan fluoresensi.
J.      Diagnosis Banding
Diagnosis banding untuk penyakit scabies adalah:
a.    Prurigo, biasanya berupa papel-papel yang gatal, predileksi pada bagian ekstensor ekstremitas
b.    Gigitan serangga, biasanya jelas timbul sesudah ada gigitan
c.    Folikulitis, nyeri berupa pustule miliar dikelilingi daerah yang eriterm
K.    Penatalaksanaan Scabies
Penatalaksanaan scabies adalah secara farmakologis (pengobatan). Pengobatan untuk scabies tersedia dalam beberapa bentuk yaitu: krim dan salep. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain: tidak berbau, efektif terhadap semua stadium kutu (telur, larva, maupun kutu dewasa), tidak menimbulkan iritasi kulit, mudah diperoleh, dan juga murah harganya
L.     Pengobatan Scabies
Semua keluarga atau orang terdekat yang berkontak dengan penderita harus ikut serta diobati. Beberapa macam obat yang dapat digunakan untuk mengobati scabies adalah:
a.    Permetrin
Obat dengan tingkat keamanan yang cukup tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit. Dapat digunakan di kepala dan leher anak usia kurang dari 2 tahun. Penggunaannya dengan cara dioleskan di tempat lesi lebih kurang 8 jam kemudian dicuci bersih.
b.    Malation
Malation 0,5% dengan dasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian.
c.    Emulsi benzil-benzoas (20-25%)
Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Sering terjadi iritasi dan kadang-kadang semakin gatal setelah memakainya.



d.   Sulfur
Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10% secara umum efektif dan aman digunakan. Dalam konsentrasi 2,5% dapat digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam.
e.    Monosulfiran
Tersedia dalam bentuk losion 25%, yang sebelum digunakan harus ditambah 2-3 bagian dari air dan digunakan selama 2-3 hari.
f.     Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan)
Kadarnya 1% dalam krim atau losion, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi iritasi. Tidak dianjurkan pada anak dibawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian.
g.    Krotamiton
Krotamiton 10% dalam krim atau losion merupakan obat pilihan. Mempunyai 2 efek sebagai antiskabies dan antigatal.
M.   Pencegahan Scabies
Penyakit scabies dapat dicegah melalui tindakan-tindakan:
a.    Penyuluhan kepada masyarakat dan komunitas kesehatan tentang cara penularan
b.    Diagnosis dini
c.    Cara pengobatan penderita scabies dan orang-orang yang kontak
d.   Pengobatan yang dilakukan secara massal jika sudah dikatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB)
e.    Sediakan sabun, sarana pemandian, dan pencucian umum. Sabun Tetmosol jika ada sangat membantu dalam pencegahan terjadinya infeksi
f.     Tidak berganti-ganti pasangan hubungan seksual
g.    Tidak berganti-ganti pakaian, handuk, sprei, dan alat atau benda-benda yang menempel pada tubuh
h.    Selalu menjaga kebersihan sanitasi dan hygiene personal dan lingkungan
i.      Jika ada salah satu orang terdekat yang mengalami gejala atau tanda scabies segera lakukan pemeriksaaan dan pengobatan baik secara individu maupun serentak
j.      Berikan vaksin atau obat antiscabies pada hewan peliharaan yang dekat dengan manusia, seperti anjing


N.    Prognosis Scabies
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat serta syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat di berantas dan memberikan prognosis yang baik. (Harahap, M, 2000)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar