ryan koko's. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

SCABIES



Scabies
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular




Oleh :
       1.      RYAN KOKO


JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012

DAFTAR ISI
A.    Definisi Scabies
B.     Epidemiologi Scabies
C.     Penularan atau Transmisi Scabies
D.    Faktor Resiko Scabies
E.     Klasifikasi Scabies
F.      Etiologi Scabies
G.    Gejala dan Tanda Scabies
H.    Pathogenesis Scabies
I.       Diagnosis Scabies
J.       Diagnosis Banding Scabies
K.    Penatalaksanaan Scabies
L.     Pengobatan Scabies
M.   Pencegahan Scabies
N.    Prognosis Scabies

A.    Definisi Scabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. (Handoko, R, 2001)
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) Sarcoptes scabiei yang termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop.
Penyakit ini merupakan infeksi pada kulit yang disebabkan oleh kutu, penetrasi pada kulit terlihat jelas berbentuk papula, vesikel atau berupa saluran kecil berjejer, berisi kutu dan telurnya. Jika dapat terjadi komplikasi dengan kuman β hemolytic streptococcus bisa terjadi glomerulonephritis akut.
Penyakit scabies juga sering disebut dengan kutu badan. Penyakit ini tergolong penyakit yang mudah menular dari manusia ke manusia, hewan ke manusia, dan manusia ke hewan.
Scabies merupakan penyakit yang menyebabkan rasa gatal pada kulit seperti sela-sela jari, siku, dan perut bagian bawah. Scabies juga identik dengan penyakit anak pondok atau asrama. Bukan bermaksud mendiskriminasikan pondok atau asrama tetapi, melihat kondisi pondok atau asrama yang kebanyakan kondisi kebersihannya kurang terjaga, sanitasi yang buruk, kurang gizi, dan kondisi ruangan yang terlalu lembab karena kurang mendapat sinar matahari. Penyakit scabies ini menular dengan cepat pada suatu komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam tindakan pengobatannya harus dilakukan dengan cepat dan secara menyeluruh individu dan lingkungan yang terserang scabies. Dilakukan tindakan seperti itu, karena apabila pengobatan hanya dilakukan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit scabies.
B.     Epidemiologi Scabies
Scabies ditemukan hampir di seluruh Negara dengan prevalensi yang bervariasi. Di beberapa Negara yang sedang berkembang, prevalensi scabies sekitar 6% - 27% populasi umum dan cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja.
Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi scabies. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini antara lain sosial ekonomi yang rendah, hygiene yang buruk, hubungan seksual yang bersifat promiskuitas atau sering bergonta-ganti pasangan, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografi serta ekologi. Selain itu, mudahnya penyakit ini menular dari manusia ke manusia, hewan ke manusia, dan menusia ke hewan melalui berbagai cara penularan.
Kejadian wabah disebabkan oleh buruknya sanitasi lingkungan karena peperangan, pengungsian dan krisis ekonomi. Penyebaran scabies di Amerika Serikat dan Eropa yang terjadi ternyata terjadi pada situasi normal yaitu tanpa peperangan, tanpa krisis, menyerang masyarakat di semua tingkat sosial tanpa melihat usia, jenis kelamin, ras atau status kesehatan seseorang. Scabies endemis di sebagian besar negara berkembang.
C.    Penularan atau Transimisi Scabies
Secara umum, cara penularan scabies dibagi menjadi 2 yang didalamnya dapat dibagi-bagi lagi, yaitu:
a.         Penularan kontak langsung yaitu: penularan yang terjadi akibat kontak langsung antara penderita scabies dengan orang sehat seperti melalui: hubungan seksual antara penderita dengan orang sehat, kontak dengan hewan pembawa tungau seperti anjing, babi, kambing, dan biri-biri, dan faktor fasilitas umum yang dipakai secara bersama-sama dengan lingkungan padat penduduk, tidur bersama, dan berjabat tangan.
b.         Penularan tanpa kontak langsung yaitu: penularan yang terjadi melalui kontak tidak langsung antara penderita dengan orang sehat seperti: penggunaan handuk secara bergantian, penggunaan pakaian dan tempat tidur, sprei, dan bantal secara bersamaan.
Penularan scabies biasanya melalui Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes scabiei var. animalis yang kadang-kadang menulari manusia, terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaan misalnya anjing.
Akan tetap menular kecuali kutu dan telur sudah dihancurkan dengan pengobatan, biasanya setelah dilakukan 1 atau 2 kali pengobatan dalam seminggu.
D.    Faktor Resiko Scabies
Faktor resiko scabies adalah:
a.    Sistem imun tubuh
Semakin rendah imunitas seseorang maka, akan semakin besar kemungkinan orang tersebut untuk terjangkit atau tertular penyakit scabies. Namun, diperkirakan terjadi kekebalan setelah infeksi.  Orang yang pernah terinfeksi akan lebih tahan terhadap infeksi ulang walaupun tetap masih bisa terkena infeksi dibandingkan mereka (orang-orang) yang sebelumnya belum pernah terinfeksi scabies.
b.      Lingkungan dengan hygiene sanitasi yang kurang
Lingkungan yang dimungkinkan sangat mudah terjangkiti scabies adalah lingkungan yng lembab, terlalu padat, dan dengan sanitasi buruk.
c.       Semua kelompok umur
Semua kelompok umur, baik itu anak-anak, reaja, dewasa, dan tua mempunyai resiko untuk terjangkiti penyakit scabies.
d.      Kemiskinan
e.       Seksual promiskuitas (berganti-ganti pasangan)
f.       Diagnosis yang salah
g.      Demografi
h.      Ekologi
i.        Derajat sensitasi individual
E.     Klasifikasi Scabies
Penyakit scabies atipik memiliki beberapa jenis, yaitu:
a.    Scabies pada orang bersih (scabies of cultivated)
Scabies pada orang bersih ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan.
b.    Scabies inconigto
Scabies inconigto biasanya muncul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala dan tanda klinis membaik tetapi, tungau tetap ada dan tetap bisa terjadi penularan. Scabies inconigto sering sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, lesi yang luas dan mirip penyakit lain.
c.    Scabies nodular
Pada scabies nodular terdapat lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat di bagian tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal, dan aksila. Nodus ini timbul akibat reaksi hipersensitivitas terhadap tungau scabies. Pada nodus yang berumur lebih dari 1 bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun sudah diberi pengobatan anti scabies dan kortikosteroid.
d.   Scabies yang ditularkan melalui hewan
Seperti di Amerika, sumber utama kejadian scabies biasanya ditularkan oleh hewan yaitu anjing. Kelainan ini berbeda dengan scabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terjadi di daerah dimana orang-orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya, yaitu perut, dada, paha, dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4-8 minggu) dan dapat sembuh karena Sarcoptes scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada tubuh manusia.
e.    Scabies Norwegia
Scabies Norwegia atau biasa disebut dengan scabies krustosa ditandai dengan lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokog, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. Rasa gatal pada scabies Norwegia tidak menonjol tapi scabies bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Bentuk ini terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau sehingga dapat berkembang biak dengan mudah.
f.     Scabies pada bayi dan anak
Lesi scabies pada anak dapat terjadi di seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, dapat terjadi lesi di muka.
g.    Scabies terbaring di tempat tidur (bed ridden)
Pada penderita penyakit kronis atau orang tua yang terpaksa tinggal di tempat tidur dapat menderita scabies yang lesinya terbatas.
F.     Etiologi Scabies
Scabies atau kudis disebabkan oleh seekor tungau (kutu/mite) yang bernama Sarcoptes scabiei, filum Arthopoda, kelas Aracnida, ordo Ackarina, Superfamili Sarcoptes. Jenis Sarcoptes yang menyerang pada hewan dan manusia adalah:
a.         Pada manusia       : S. scabiei var homonis
b.         Pada hewan          : S. scabiei var animalis
c.         Pada babi             : S. scabiei var suis
d.        Pada kambing      : S. scabies var caprae
e.         Pada biri-biri        : S. scabiei var ovis
Secara morfologik, tungau berukuran kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar 330-450 mikron x 250-350 mikron sedangkan yang jantan lebih kecil yakni 200-210 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasanya memiliki 4 pasang kaki yaitu 2 pasang kaki di depan sebagai alat melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan kaki keempat berakhir dengan alat perekat. Tungau ini memiliki siklus hidup sebagai berikut:
Tungau berkopulasi (kawin) diatas kulit, setelah terjadi kopulasi (kawin) yang jantan akan mati, kadang-kadang masih hidup dalam terowongan yang digali oleh tungau betina. Tungau betina yang telah dibuahi akan menggali stratum korneum dengan kecepatan 2-3 mm sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat bertahan hidup selama 1 bulan. Biasanya dalam watu 3-5 hari, telur akan menetas dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari, larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk yaitu jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, dan tungau jantan akan mati setelah kopulasi.
Sarcoptes scabiei dapat hidup di luar pada suhu kamar selama lebih kurang 7-14 hari. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapat diserang oleh tungau.
G.    Gejala dan Tanda Scabies
Gejala penyakit scabies pada manusia adalah:    
a.        Terdapat liang di permukaan kulit
b.        Gatal
c.         Kemerahan pada kulit
d.        Biasa terjadi infeksi sekunder
e.         Pada bayi, terdapat bisul pada telapak tangan dan kaki
Terdapat 4 tanda cardinal penyakit scabies pada manusia adalah:
a.         Pruritus nocturna, yaitu gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tngau akan lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas
b.        Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, yaitu misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi
c.         Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel. Jika terjadi infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimarf (pustule, ekskoriasi, dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan statum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan kaki.
d.        Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
Tanda-tanda umum scabies:
a.         Adanya papula (bintil)
b.        Adanya pustule (bintil bernanah)
c.         Adanya ekskoriasi (bekas garukan), dan
d.        Bekas-bekas lesi yang berwarna hitam
H.    Patogenesis Scabies
Patogenesis atau perjalanan terjadinya penyakit scabies yaitu kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.
I.       Diagnosis Scabies
Diagnosis scabies dapat ditegakkan melalui:
a.         Ditemukannya 2 dari 4 tanda cardinal
b.         Terdapat terowongan yang sedikit meninggi, berbentuk garis lurus atau berkelok-kelok, panjangnya beberapa millimeter sampai 1 cm, dan pada ujungnya terdapat vesikula, papula atau pustule.
c.         Tempat predileksi yang khas adalah sela-sela jari, pergelangan tangan bagian volar, siku, lipat ketiak bagian depan, areola mammae, sekitar umbilicus, perut bagian bawah, dan genitalia eksterna pria. Pada orang dewasa jarang terdapat di bagian muka dan kepala, kecuali pada penderita imunosupresif, sedangkan pada bayi lesi dapat terjadi di seluruh permukaan kulit
d.        Penyembuhan terjadi dengan cepat setelah pemberian obat anti scabies topical yang efektif
e.         Adanya gatal hebat pada malam hari. Bila lebih dari 1 anggota keluarga menderita gatal, perlu diwaspadai terjadinya scabies. Gatal meningkat pada malam hari disebabkan karena temperatur badan yang meningkat sehingga aktivitas kutu atau tungau juga meningkat.
f.          Menemukan tungau. Metode-metode penemuan tungau yang lain:
·               Kerokan kulit
Papul atau terowongan yang baru dibentuk dan utuh ditetesi minyak mineral/KOH, kemudian dikerok dengan scalpel steril untuk mengangkat atap papul atau terowongan. Hasil kerokan diletakkan di gelas obyek dan ditutup dengan lensa mantap, lalu diperiksa dibawah mikroskop.
·               Mengambil tungau dengan jarum
Jarum ditusukkan pada terowongan di bagian yang gelap dan digerakkan tangensial. Tungau akan memegang ujung jarum dan dapat diangkat keluar.
·               Epidermal shave biopsy
Papul atau terowongan yang dicurigai diangkat dengan ibu jari dan telunjuk lalu diiris dengan scalpel no. 15 sejajar dengan permukaan kulit. Biopsy dilakukan sangat superfisial sehingga perdarahan tidak terjadi dan tidak diperlukan anestesi.
·               Burrow ink test
Papul scabies dilapisi tinta cina dengan menggunakan pena lalu dibiarkan selama 2 menit kemudian dihapus dengan alkohol. Tes dinyatakan positif bila tinta masuk kedalam terowongan dan membentuk gambaran khas berupa garis zig-zag.
·               Swab kulit
Kulit dibersihkan dengan eter lalu dilekatkan selotip dan diangkat dengan cepat. Selotip dilekatkan pada gelas obyek kemudian diperiksa dengan mikroskop.

·               Uji tetrasiklin
Tetrasiklin dioleskan pada daerah yang dicurigai ada terowongan, kemudian dibersihkan dan diperiksa dengan lampu Wood. Tetrasiklin dalam terowongan akan menunjukkan fluoresensi.
J.      Diagnosis Banding
Diagnosis banding untuk penyakit scabies adalah:
a.    Prurigo, biasanya berupa papel-papel yang gatal, predileksi pada bagian ekstensor ekstremitas
b.    Gigitan serangga, biasanya jelas timbul sesudah ada gigitan
c.    Folikulitis, nyeri berupa pustule miliar dikelilingi daerah yang eriterm
K.    Penatalaksanaan Scabies
Penatalaksanaan scabies adalah secara farmakologis (pengobatan). Pengobatan untuk scabies tersedia dalam beberapa bentuk yaitu: krim dan salep. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain: tidak berbau, efektif terhadap semua stadium kutu (telur, larva, maupun kutu dewasa), tidak menimbulkan iritasi kulit, mudah diperoleh, dan juga murah harganya
L.     Pengobatan Scabies
Semua keluarga atau orang terdekat yang berkontak dengan penderita harus ikut serta diobati. Beberapa macam obat yang dapat digunakan untuk mengobati scabies adalah:
a.    Permetrin
Obat dengan tingkat keamanan yang cukup tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit. Dapat digunakan di kepala dan leher anak usia kurang dari 2 tahun. Penggunaannya dengan cara dioleskan di tempat lesi lebih kurang 8 jam kemudian dicuci bersih.
b.    Malation
Malation 0,5% dengan dasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian.
c.    Emulsi benzil-benzoas (20-25%)
Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Sering terjadi iritasi dan kadang-kadang semakin gatal setelah memakainya.



d.   Sulfur
Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10% secara umum efektif dan aman digunakan. Dalam konsentrasi 2,5% dapat digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam.
e.    Monosulfiran
Tersedia dalam bentuk losion 25%, yang sebelum digunakan harus ditambah 2-3 bagian dari air dan digunakan selama 2-3 hari.
f.     Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan)
Kadarnya 1% dalam krim atau losion, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi iritasi. Tidak dianjurkan pada anak dibawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian.
g.    Krotamiton
Krotamiton 10% dalam krim atau losion merupakan obat pilihan. Mempunyai 2 efek sebagai antiskabies dan antigatal.
M.   Pencegahan Scabies
Penyakit scabies dapat dicegah melalui tindakan-tindakan:
a.    Penyuluhan kepada masyarakat dan komunitas kesehatan tentang cara penularan
b.    Diagnosis dini
c.    Cara pengobatan penderita scabies dan orang-orang yang kontak
d.   Pengobatan yang dilakukan secara massal jika sudah dikatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB)
e.    Sediakan sabun, sarana pemandian, dan pencucian umum. Sabun Tetmosol jika ada sangat membantu dalam pencegahan terjadinya infeksi
f.     Tidak berganti-ganti pasangan hubungan seksual
g.    Tidak berganti-ganti pakaian, handuk, sprei, dan alat atau benda-benda yang menempel pada tubuh
h.    Selalu menjaga kebersihan sanitasi dan hygiene personal dan lingkungan
i.      Jika ada salah satu orang terdekat yang mengalami gejala atau tanda scabies segera lakukan pemeriksaaan dan pengobatan baik secara individu maupun serentak
j.      Berikan vaksin atau obat antiscabies pada hewan peliharaan yang dekat dengan manusia, seperti anjing


N.    Prognosis Scabies
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat serta syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat di berantas dan memberikan prognosis yang baik. (Harahap, M, 2000)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Reaksi Alergi




Hipersensitifitas menunjukkan suatu keadaan dimana respon spontan sistem imun manusia yang mengakibatkan reaksi berlebihan, tidak sesuai dan cenderung merugikan sang inang dan disebut “Alergi”. Reaksi ini secara khas terjadi pada orang-orang tertentu yang menunjukkan kondisi badan setelah kontak kedua dengan suatu antigen khusus (alergen) dan dapat menimbulkan reaksi patologis dalam badan. Kontak pertama merupakan peristiwa awal yang diperlukan dan menginduksi sensitivitas terhadap alergen itu.
Reaksi alergi dibagi dalam 2 golongan besar berdasarkan kecepatan timbulnya reaksi, yaitu :
  1. Tipe Cepat (immediate type, antibody-mediated) ; Tipe I, II, III dan V
  2. Tipe Lambat (delayed type, cell-mediated) ; Tipe IV
Akan tetapi hanya empat jenis reaksi hipersensitifitas yang utama, Tipe I, II dan III adalah berperantara-antibodi dan Tipe IV berperantara-sel.
Table 1. Gell and Coombs classification of hypersensitivity reactions.
Type
Mechanism
Examples
I
IgE
Anaphylaxis, asthma, hay fever, eczema, food allergies
II
Cytotoxic Ab
HTR caused by ABO incompatibility, HDN caused by Rh incompatibility
III
Immune complexes
Arthus phenomenon, serum sickness, rheumatoid arthritis
IV
Cell-mediated
Koch’s phenomenon, contact dermatitis



Tipe I – Hipersensitifitas Segera (Anafilaksis)
Antigen bereaksi dengan antibodi tertentu (reagen atau antibodi homo-sitotrof yang terikat pada permukaan sel melalui tempat khas pada bagian Fc, misalnya IgE) yang terikat pada permukaan Mast Cell di dalam jaringan atau pada sel basofil di dalam peredaran darah. Reaksi tersebut mengakibatkan degranulasi Mast Cell disertai pengeluaran beberapa zat dengan efek farmakologis tertentu, seperti Histamin, Tromboksan dan Prostagladin.
Bentuk yang dapat terjadi adalah anafilaksis sistemik apabila terjadi pada setiap angota spesies dan alergi atopik (reaksi lokal) apabila hanya terjadi pada angoota tertentu dari suatu spesies. Tipe ini dapat diterapi dengan melawan daya kerja zat perantara atau mencegah pelepasan zat perantara dari granula Mast Cell yang dilakukan dengan mengenali alergen untuk menghindari antigen itu.

Tipe II – Hipersensitifitas Sitotoksik
Antigen yang terikat pada permukaan sel bereaksi dengan antibodi (misalnya reaksi hemaglutinasi dan hemolisis) dan menyebabkan :
  1. Fagositosis sel itu melalui proses Opsonic Adherence (Fc) atau Immune adeherens (C3).
  2. Reaksi sitotoksik ekstraseluler oleh sel K (Killler Cell) yang mempunyai reseptor untuk IgFc.
  3. Lisis sel karena bekerjanya seluruh sistem komplemen.
Antibodi (IgG atau IgM) melekat pada atigen lewat daerah Fab dan bekerja sebagai suatu jembatan ke komplemen lewat daerah Fc. Akibatnya dapat terjadi lisis yang berperantara-komplemen, seperti yang terjadi pada anemia hemolitik, reaksi transfusi darah atau penyakit Inkompabilitas hemolitik Rhesus,  transplantasi jaringan, reaksi auto-imun (Autoimmune reaction) dan reaksi obat.

Tipe III – Hipersensitifitas Kompleks Imun
Pembentukan suatu kompleks oleh antigen dan antibodi humoral dapat menyebabkan pengaktifan sistem komplemen dan pengumpalan trombosit. Dimanapun diendapkan, kompleks imun juga menunjukkan penarikan sel polimorfonuklear yang semuanya akan menyebabkan radang dan cedera jaringan. Biasanya  kompleks imun ini dengan cepat dibuang oleh sistem retikuloendotelial, tetapi kadang-kadang dapat bertahan dan diendapkan dalam jaringan sehingga mengakibatkan beberapa penyakit. Reaksi hipersensitivitas tipe III adalah khas pada reaksi penyakit serum, selain penyakit kompleks imun dan atopi.
Akibat dari kompleks imun tidak hanya tergantung pada banyaknya tiap bahan, tetapi juga pada banyaknya tiap bahan tetapi juga perbandingan relatif dari bahan yang menentukan jenis kompleks yang dibentuk dan mempengaruhi penyebarannya didalam badan. Pada keadaan antibodi yang berlebihan (misalnya reaksi Arthus) kompleks yang dibentuk akan berpresipitasi di tempat masuknya antigen, sedangkan apabila antigen yang berlebihan (misalnya penyakit serum sickness) akan dibentuk kompleks yang dapat larut dan menyebabkan reaksi sistemik, serta ditimbun didalam ginjal (nefritis), sendi (artritis), atau pembuluh darah (vaskulitis).

Tipe IV – Hipersensitifitas Berperantara Sel (Lambat)
Merupakan fungsi limfosit T, bukan fungsi antibodi dan dapat dipindahkan oleh sel T yang terlibat secara imunologik pasif tetapi tidak oleh serum. Sel limfosit T dengan reseptor spesifik pada permukaannya akan dirangsang oleh antigen yang sesuai dan mengeluarkan zat Limfokin. Limfosit yang terangsang mengalami transformasi menjadi besar seperti Limfoblast yang mampu merusak sel target yang mengendung antigen dipermukaannya.
Respon lambat yang dimulai beberapa jam (atau hari) setelah kontak (hipersensitivitas Kontak) dengan antigen dan sering berlangsung selama beberapa hari. Respon ini terutama terdiri atas infiltrasi sel berinti satu dan indurasi jaringan seperti yang terlihat pada uji kulit tuberkulin (Hipersensitivitas Tipe-Tuberkulin). Hipersensitifitas lambat dan imunitas berperantara-sel saling berkaitan erat.

Beberapa literatur juga menjelaskan keberadaan tipe reaksi alergi kelima, sebagai berikut :
Tipe V – Hipersensitivitas ter-Stimulus
Ada banyak sel didalam badan yang fungsinya tergantung dari instruksi yang diterima melalui zat tertentu, misalnya hormon yang menempel pada permukaan sel melalui reseptor khas. Apabila auto-antibodi terhadap antigen menempel di permukaan sel maka akan terjadi kelainan yang merangsang sel itu sehingga tidak terkontrol

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Demam Tifoid


Penyakit Demam Tifoid 

Penyakit Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan. Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa.

Di Indonesia, diperkirakan antara 800 - 100.000 orang terkena penyakit tifus atau demam tifoid sepanjang tahun. Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan konon anak perempuan lebih sering terserang, peningkatan kasus saat ini terjadi pada usia dibawah 5 tahun.
·  Cara Penularan Penyakit Demam Tifoid
Penyakit demam Tifoid ini bisa menyerang saat kuman tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Dan melalui peredaran darah, kuman sampai di organ tubuh terutama hati dan limpa. Ia kemudian berkembang biak dalam hati dan limpa yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.
·  Tanda dan Gejala Penyakit Demam Tifoid
Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Kemudian mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga berkembang biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.

Gejala klinik demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan gejala yang ditimbulkan antara lain ;
  1. Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang malamnya demam tinggi.
  2. Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
  3. Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
  4. Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
  5. Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
  6. Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi gangguan kesadaran.
·  Diagnosa Penyakit Demam Tifoid
Untuk ke akuratan dalam penegakan diagnosa penyakit, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium diantaranya pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan Widal dan biakan empedu.
  1. Pemeriksaan darah tepi merupakan pemeriksaan sederhana yang mudah dilakukan di laboratorium sederhana untuk membuat diagnosa cepat. Akan ada gambaran jumlah darah putih yang berkurang (lekopenia), jumlah limfosis yang meningkat dan eosinofilia.
  2. Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan darah untuk menemukan zat anti terhadap kuman tifus. Widal positif kalau titer O 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan progresif.
  3. Diagnosa demam Tifoid pasti positif bila dilakukan biakan empedu dengan ditemukannya kuman Salmonella typhosa dalam darah waktu minggu pertama dan kemudian sering ditemukan dalam urine dan faeces.

Sampel darah yang positif dibuat untuk menegakkan diagnosa pasti. Sample urine dan faeces dua kali berturut-turut digunakan untuk menentukan bahwa penderita telah benar-benar sembuh dan bukan pembawa kuman (carrier).

Sedangkan untuk memastikan apakah penyakit yang diderita pasien adalah penyakit lain maka perlu ada diagnosa banding. Bila terdapat demam lebih dari lima hari, dokter akan memikirkan kemungkinan selain demam tifoid yaitu penyakit infeksi lain seperti Paratifoid A, B dan C, demam berdarah (Dengue fever), influenza, malaria, TBC (Tuberculosis), dan infeksi paru (Pneumonia).
·  Perawatan dan Pengobatan Penyakit Demam Tifoid
Perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau types bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Pengobatan penyakit tifus dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk mencegah penularan. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.

Selain obat-obatan yang diberikan untuk mengurangi gejala yang timbul seperti demam dan rasa pusing (Paracetamol), Untuk anak dengan demam tifoid maka pilihan antibiotika yang utama adalah kloramfenikol selama 10 hari dan diharapkan terjadi pemberantasan/eradikasi kuman serta waktu perawatan dipersingkat. Namun beberapa dokter ada yang memilih obat antibiotika lain seperti ampicillin, trimethoprim-sulfamethoxazole, kotrimoksazol, sefalosporin, dan ciprofloxacin sesuai kondisi pasien. Demam berlebihan menyebabkan penderita harus dirawat dan diberikan cairan Infus.
·  Komplikasi Penyakit Demam Tifoid
Komplikasi yang sering dijumpai pada anak penderita penyakit demam tifoid adalah perdarahan usus karena perforasi, infeksi kantong empedu (kolesistitis), dan hepatitis. Gangguan otak (ensefalopati) kadang ditemukan juga pada anak.
·  Diet Penyakit Demam Tifoid
Penderita penyakit demam Tifoid selama menjalani perawatan haruslah mengikuti petunjuk diet yang dianjurkan oleh dokter untuk di konsumsi, antara lain :
  1. Makanan yang cukup cairan, kalori, vitamin & protein.
  2. Tidak mengandung banyak serat.
  3. Tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.
  4. Makanan lunak diberikan selama istirahat.
Untuk kembali ke makanan "normal", lakukan secara bertahap bersamaan dengan mobilisasi. Misalnya hari pertama dan kedua makanan lunak, hari ke-3 makanan biasa, dan seterusnya.
·  Pencegahan Penyakit Demam Tifoid
Pencegahan penyakit demam Tifoid bisa dilakukan dengan cara perbaikan higiene dan sanitasi lingkungan serta penyuluhan kesehatan. Imunisasi dengan menggunakan vaksin oral dan vaksin suntikan (antigen Vi Polysaccharida capular) telah banyak digunakan. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SATUAN PENYULUHAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)


SATUAN PENYULUHAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)



I. Latar Belakang

Jumlah anak yang besar yakni 30% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 73 Juta orang dan usia sekolah merupakan masa keemasan untuk menanamkan nilai-nilai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga berpotensi sebagai agen perubahaan untuk mempromosikan PHBS, baik dilingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
Saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 250.000 sekolah negeri, swasta maupun sekolah agama dari berbagai tindakan.
Sekolah selain berfungsi sebagai tempat pembelajaran juga dapat menjadi ancaman penularan penyakit jika tidak dikelola dengan baik. Lebih dari itu, usia sekolah bagi anak juga merupakan masa rawan terserang berbagai penyakit
Data penyakit yang di derita oleh anak sekolah (SD) terkait Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
Jenis penyakit
Jumlah Kasus
Sumber Data
Kecacingan
40-60%
Profil Dep Kes Tahun 2005
Anemia
23,2 %
Yayasan Kusuma Buana Tahun 2007
Karies & Periodental
74,4 %
SKRT Tahun 2001

Jika tiap sekolah memiliki 20 kader kesehatan saja maka ada 5 juta kader kesehatan yang dapat membantu terlaksananya dua strategi utama Departemen Kesehatan Berdasarkan hasil pengumpulan data oleh mahasiswa Politeknik Kesehatan Tanjungkarang pada tanggal 21-24 Mei 2011, tentang penyakit yang dialami dalam tiga bulan terakhir terhadap anak usia sekolah dasar diperoleh hasil sebagai berikut panas, batuk, pilek 47 anak (46,53%), diare/mencret 18 anak (17,82%), panas 10 anak (9,90%), sakit gigi 5 anak (4,95%), sakit kulit 5 anak (4,95%), kurang gizi 3 anak (2,97%), lain-lain (1,98%), dan tidak ada keluhan 11anak (10,89%).
Berdasarkan perilaku kebiasaan jajan di sekolah maupun di rumah terhadap anak usia sekolah didapatkan hasil sebagai berikut sering/hampir setiap hari 82 anak(81,18%), pernah/sekali-kali 17 anak(16,83%), dan tidak pernah 2 anak (1,98%)
Berdasarkan hasil pengumpulan data oleh mahasiswa Politeknik Kesehatan Tanjungkarang pada tanggal 21-24 Mei 2011, tentang kebiasaan mencuci tangan sebelum/setelah makan, buang air dan bermain terhadap anak usia sekolah dasar diperoleh hasil sebagai berikut tidak pernah 8 anak (7,92%), pernah/sekali-kali 45 anak (44,55), dan sering/hampir setiap hari 48 anak (47,52%).
Munculnya sebagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (usia 6-10), ternyata umumnya berkaitan dengan PHBS. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai PHBS disekolah merupakan kebutuhan mutlak dan dapat dilakukan melalui pendekatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Berdasarkan hasil Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) Dusun Tanjung Senang Desa Merak Batin Kecamatan Natar pada tanggal 27 Mei 2011 di Masjid Babul Jannah mengahilkan kesepakatan bahwa akan di adakannya penyuluhan tentang jajanan sehat kepada anak-anak sekolah dasar.

II. Tujuan
Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan ini, diharapkan siswa/i dapat memahami dan mengaplikasikan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan ini siswa/i dapat :
1.      Memahami pengertian PHBS.
2.      Memahami sarana pengembangan PHBS di sekolah
3.      Mengetahui manfaat diterapkannya PHBS.
4.      Memahami manfaat cuci tangan.
5.      Melaksanakan langkah-langkah cuci tangan yang benar.
6.      Memahami dampak dari tidak mencuci tangan.
7.      Memahami karakteristik jajanan sehat dan tidak sehat.
8.      Mampu membedakan antara jajanan sehat dan tidak sehat.
9.      Mampu mengaplikasikan tips dan trik memilih jajanan yang sehat.


III. Sasaran
Penyuluhan kesehatan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ditujukan kepada masyarakat pada umumnya. Sasaran penyuluhan adalah siswa/i SD N 1 Ponolawen Pekalongan.

IV. Tempat dan Waktu
Hari/Tanggal        :  Senin, 30 Mei 2011
Tempat                 : SD N 1 Ponolawen Pekalongan
Waktu                   :  09.30 s/d Selesai

V. Materi
1.      Pengertian PHBS.
2.      Jenis-jenis PHBS.
3.      Manfaat diterapkannya PHBS.
4.      Manfaat cuci tangan.
5.      Langkah-langkah cuci tangan yang benar.
6.      Dampak negatif dari tidak mencuci tangan.
7.      Karakteristik jajanan sehat dan tidak sehat.
8.      Jajanan sehat dan tidak sehat.


VI. Metode dan Teknik
1. Metode
Metode yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah :
a)      Ceramah
b)      Tanya jawab
c)      Demonstrasi

2. Teknik
Teknik yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah :
a). Menyiapkan materi yang akan disajikan.
b). Menjelaskan tujuan dari promosi kesehatan yang dilakukan.
c). Menyajikan materi kemudian melakukan diskusi dan tanya jawab.

VII. Media
Alat peraga :
a). Flipchart

Alat demonstrasi :
a). Sabun cair atau pun padat (antiseptik maupun non-antiseptik).
b). Air mengalir
c). Ember
d). Lap tangan

VIII. Strategi Pelaksanaan
1. Persiapan :
a). Survey karakter dan lokasi sasaran.
b). Konsultasi dengan pembimbing.
c). Menyiapkan alat dan bahan.

2. Pelaksanaan :
a). Mempresentasikan materi.
b). Diskusi.
c). Evaluasi : Tanya jawab dengan para siswa
d). Penutup.

No
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Peserta
Waktu
1.
Tahap pembukaan
1.1     Moderator membuka acara dan memberi salam
1.2     Perkenalan
1.3     Menjelaskan tujuan penyuluhan
1.4     Memberikan kesempatan bertanya

Menjawab salam ,mendengarkan,

Mendengar dan memperhatikan
Mendengar dan memperhatikan
Bertanya, mendengar dan memperhatikan
5 menit
2.
Tahap pelaksanaan
2.1     Menggali pengetahuan audiens tentang pengertian perilaku hidup bersih dan sehat.
2.2     Memberikan reinforcement positif.
2.3     Pemateri menjelaskan tentang:
a.     Jenis-jenis PHBS.
b.     Manfaat diterapkannya PHBS.
c.     Manfaat cuci tangan.
d.     Langkah-langkah cuci tangan yang benar.
e.     Dampak negatif dari tidak mencuci tangan.
f.      Karakteristik jajanan sehat dan tidak sehat.
g.     Tips dan trik memilih jajanan yang sehat.
h.     Menjelaskan dampak memakan jajanan yang tidak sehat dan tidak sehat.
2.4     Memberikan kesempatan bertanya

Menjawab pertanyaan, mendengar memberikan persepsi tentang kebersihan, bertanya
Mendengar, memperhatikan


Mendengar, memperhatikan
Mendengar , memperhatikan
Mendengar , memperhatikan
Mendengar , memperhatikan

Mendengar , memperhatikan

Mendengar , memperhatikan

Mendengar , memperhatikan

Mendengar , memperhatikan


Menanyakan hal-hal yang kurang jelas.
30 menit
3.
Tahap penutup
3.1 Penyaji menyimpulkan materi tentang jajanan sehat dan tidak sehat.
3.2 Moderator menutup acara dan mengucapkan salam

Mendengar , dan menyimpulkan materi dengan audiens
Mendengar , menjawab salam
3 menit

IX. Uraian Tugas
1.      Tugas Moderator
a.       Membuka acara.
b.      Menjelaskan tujuan penyuluhan dan mengatur jalannya acara penyuluhan.
c.       Menutupkan acara.
2.      Tugas Penyaji
a.       Menggali pengetahuan peserta.
b.      Menjelaskan pokok bahasan penyuluhan.
c.       Bertanya pada peserta.
d.      Menyimpulkan materi.
3.      Tugas Observer
Mengevaluasi jalannya penyuluhan.

4.      Tugas Fasilitator
a.       Memfasilitasi jalanya penyuluhan.
b.      Memberi motivasi kepada audiens yang bertanya.

X. Evaluasi
1.      Evaluasi Struktur
a.       Tempat dan alat tersedia sesuai perencanaan.
b.      Peran dan tugas siswa/i sesuai perencanaan.

2.      Evaluasi Proses
a.       Pelaksanaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
b.      Peserta mengikuti penyuluhan dari awal sampai akhir.
c.       Peserta berperan aktif selama penyuluhan.

3. Evaluasi Hasil
a.  Minimal 60% peserta dapat mengikuti penyuluhan dan dapat menjelaskan definisi perilaku hidup bersih dan sehat.
b. Minimal 60% peserta dapat mengikuti penyuluhan dan dapat menyebutkan jenis-jenis perilaku hidup bersih dan sehat.
c.  Minimal 60% peserta dapat mengikuti penyuluhan dan dapat menyebutkan manfaat diterapkannya perilaku hidup bersih dan sehat.
d. Minimal 60% peserta dapat mengikuti penyuluhan dan dapat menyebutkan manfaat cuci tangan.
e.  Minimal 60% peserta dapat mengikuti penyuluhan dan dapat mempraktikan langkah-langkah cuci tangan yang benar.
f.  Minimal 60% peserta dapat mengikuti penyuluhan dan dapat menyebutkan dampak negatif dari tidak mencuci tangan.
g. Minimal 60% peserta dapat mengikuti penyuluhan dan dapat menyebutkan karakteristik jajanan sehat dan tidak sehat.
h. Minimal 60% peserta dapat mengikuti penyuluhan dan dapat menyebutkan tips dan trik memilih jajanan yang sehat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tips Dan Cara Meningkatkan Daya Ingat Otak


  1. Olahraga. Olahraga bukan berarti baik untuk raga kita saja, dengan berolahraga secara teratur, selain menjaga badan kita tetap fit juga bisa membantu kita untuk meningkatkan kinerja otak sehingga tidak mudah lupa. Plak yang menumpuk di sel darah kita yang menyebabkan aliran nutrisi ke otak menjadi terhambat dan dengan berolahraga bisa mengurangi plak tersebut sehingga otak kita tetap sehat.
  2. Jaga emosi. Orang yang tidak bisa mengendalikan emosi biasanya gampang terkena stress, stress ini bisa menyebabkan kinerja otak kita terganggu karena ada beban pikiran yg lain. So aturlah emosi untuk meningkatkan daya ingat otak.
  3. Tidur yang cukup. Tidur di sini bukan hanya tidur di malam hari, akan tetapi juga termasuk tidur siang. Ketika tidur, otak kita akan merekam kembali kejadian-kejadian yang dialami sebelum tidur. Terutama setelah mempelajari sesuatu, misal ketika belajar sebelum ujian.
  4. Mendengarkan musik. Berdasarkan penelitian, musik-musik tertentu bisa membantu kita untuk menghafal lebih cepat (meningkatkan daya ingat otak) sambil mendengarkan musik tersebut.
  5. Mengajar. Mengajari orang lain tentang sesuatu hal yang sudah kita ketahui juga bisa meningkatkan daya ingat otak kita karena secara tidak langsung kita juga mengulangi hal tersebut, bahkan bisa hafal di luar kepala.
  6. Mengisi teka-teki silang. Selain mengisi waktu luang, teka-teki silang juga bisa kita gunakan untuk meningkatkan daya ingat. Semakin sering kita melatih otak, semakin kuat juga kinerja otak kita.
Cara yang paling mudah untuk meningkatkan daya ingat ya dengan makanan kita, pilihlah makanan yang bisa membantu untuk meningkatkan daya ingat otak kita.
  1. Gandum
    Banyak manfaat atau khasiat yang bisa kita ambil dari gandum, selain beresiko lebih rendah dari penurunan kognitif yang bisa menyebabkan Alzheimer, gandum juga berkhasiat untuk meningkatkan daya ingat otak kita. Makan gandum beserta olahannya seperti sereal, wheatbrand, dan pasta gandum memberikan vitamin B12 dan B6 yang bisa meningkatkan dan mempertahan daya ingat otak kita.
  2. Minyak Ikan
    Otak kita membutuhkan asam lemak omega3 yang bisa ditemui dari beberapa jenis ikan seperti mackarel, tuna, salmon, dan jenis ikan laut lainnya. Selain asam lemak omega-3, ikan-ikan ini juga mengandung docosahexaenoic acid (DHA) dan yodium yang bagus untuk saraf otak dan mengasah daya ingat lebih tajam.
  3. Blueberry
    Ekstrak blueberry dapat membantu memelihara serta meningkatkan daya ingat dan fungsi otak. (Sumber : penelitian Tufts University dan Journal of Neuroscience).
  4. Tomat
    Faktor usia adalah salah satu hal penyebab menurunnya daya ingat otak kita. Untuk meningkatkan daya ingat, tomat adalah buah yang cukup bermanfaat. Hal ini dikarenakan tomat kaya akan Lycopene dan antioksidan yang bisa membantu melindungi terhadap jenis kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas yang diakibatkan karena faktor usia.
  5. Blakcurrant
    Vitamin C pada Blackcurrent sudah dikenal memiliki kekuatan untuk meningkatkan ketangkasan mental dalam berfikir. Mampu menjaga otak dari racun dari lingkungan ataupun makanan, sehingga bisa mencegah terjadinya penurunan daya ingat.
  6. Kuaci Biji Labu
Meningkatkan daya ingat bisa dengan makanan yang mengandung zinc. Zinc baik untuk meningkatkan daya ingat dan memeilahara ketajaman otak dan pikiran. Zinc bisa ditemukan di kuaci biji labu.
  1. Brokoli
    Brokoli merupakan sumber vitamin K, yang dikenal baik untuk meningkatkan fungsi kognitif serta kemampuan otak dalam berfikir (meningkatkan daya ingat otak).
  2. Kacang-kacangan
    Menurut the American Journal of Epidemiology, kacang atau pun selai kacang mengandung lemak yang baik untuk tubuh. Selain itu, kacang juga menjadi sumber vitamin E tinggi yang bisa menjaga tubuh tidak hanya dari serangan jantung tapi juga memperbaiki untuk sistem kerja dan meningkatkan daya ingat otak
  3. Ikan Salmon
    Ikan berlemak seperti salmon merupakan sumber terbaik asam lemak omega-3 – DHA and EPA – yang keduanya penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak. Riset terbaru juga menunjukkan bahwa orang yang memperoleh asupan asam lemak lebih banyak memiliki pikiran lebih tajam dan mencatat hasil memuaskan dalam uji kemampuan. Menurut para ahli walaupun tuna mengandung asam omega-3, namun ikan ini tidaklah sekaya salmon.
  4. Telur
    Telur dikenal sebagai sumber penting protein yang relatif murah dan harganya cukup terjangkau. Bagian kuning telur ternyata padat akan kandungan kolin, suatu zat yang dapat membantu perkembangan memori atau daya ingat.
     

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS